Dapatkan informasi baru paling lengkap hanya di situs ini. Semua yang anda cari sudah kami kupas pada situs kami. Cari tahu sekarang.

Pengertian Viskositas, Konsep Viskositas dan Pengukuran Viskositas

Pengertian Viskositas, Konsep Viskositas dan Pengukuran Viskositas. Viskositas merupakan ukuran kekentalan suatu fluida yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Seperti kita ketahui, setiap fluida atau zat memiliki ukuran kekentalan masing-masing. Misalnya saja minyak dan air, yang memiliki ukuran kekentalan yang berbeda.

Dimana air memiliki kekentalan yang lebih kecil, namun laju alir yang lebih cepat dibandingkan minyak. Sedangkan minyak sendiri memiliki ukuran kekentalan yang lebih besar, tetapi laju alir yang lebih lambat dibandingkan air. Karena kekentalan suatu fluida bisa menghambat perpindahan laju alir fluida tersebut. Viskositas sendiri merupakan suatu ketahanan aliran dari suatu fluida terhadap pengaruh tegangan ataupun tekanan.

Konsep Viskositas
Berdasarkan contoh air dan minyak tadi, Anda bisa menyimpulkan mana yang memiliki viskositas yang tinggi? Ya, minyaklah yang memiliki viskositas tinggi. Hal ini juga berkaitan dengan pergerakan sebuah fluida tadi yang tegak lurus terhadap hubungan laju alir.

Dimana, fluida yang memiliki viskositas yang lebih tinggi akan memiliki pergerakan yang lebih rendah dibandingkan fluida yang memiliki viskositas rendah. Viskositas pada fluida itu sendiri berkaitan dengan gesekan yang terjadi diantara fluida tadi ketika terjadi pergerakan lapisan fluida tadi. Pada gas, kekentalan atau viskositas tadi muncul akibat tumbukan yang terjadi antar molekul. Sedangkan pada cairan atau zat cair sendiri, viskositas ini terjadi akibat adanya gaya kohesi yang terjadi antar molekul.

Viskositas memiliki lambang Ƞ (miu), dengan satuan poise (P). Viskositas sendiri bisa dengan mudah Anda pahami dengan cara meninjau lapisan fluida tipis yang diletakkan pada 2 lempengan logam bertekstur rata. Dimana, satu lempeng akan bergerak ke bagian atas dan lempeng lainnya bergerak ke bawah. Setiap fluida mempunyai ketahanan terhadap tekanan, maka dari itu timbullah yang dinamakan kental. Akan tetapi, ada fluida yang tak mempunyai ketahanan, tegangan maupun tekanan yang dinamakan dengan fluida ideal.

Faktor Yang Mempengaruhi Viskositas
Viskositas sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut ini:

1. Temperatur
Seperti kita ketahui, semakin tinggi suhu atau temperatur pada perlakuan suatu fluida maka semakin kecil nilai viskositas dari fluida tersebut. Pengaruh ini juga tak lain karena energi kinetik rata-rata pada fluida tersebut semakin meningkat. Sehingga gaya intermolekuler yang terjadi bisa ditahan.

2. Gaya intermolekuler
Besarnya viskositas dipengaruhi oleh gaya intermolekuler yang terjadi pada fluifa cair. Dimana, semakin kuat gaya antar molekul atau intermolekuler maka semakin tinggi pula nilai viskositas cairan tersebut. Adapun contohnya adalah metanol dan air, kedua jenis fluida ini memiliki viskositas yang berbeda. Dimana metanol memiliki viskositas lebih rendah dibandingkan air. Hal ini dikarenakan gaya intermolekuler pada air bisa dibilang lebih besar dibandingkan dengan metanol sendiri.

3. Ikatan hidrogen
Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya viskositas adalah ikatan hidrogen. Dimana fluida yang memiliki ikatan hidrogen lebih kuat memiliki nilai viskositas yang lebih tinggi hal ini disebabkan oleh meningkatnya massa molekul dan ukuran. Adapun contohnya adalah antara asam sulfat dan gliserol yang memiliki ikatan hidrogen lebih kuat dibandingkan air, sehingga kedua jenis fluida ini memiliki viskositas lebih tinggi dibandingkan air.

Cara Mengukur Viskositas
Untuk mengetahui besarnya viskositas suatu fluida, memerlukan alat yang dinamakan sebagai viscometer. Viscometer sendiri dibagi lagi ke dalam beberapa jenis viskometer seperti berikut ini:

1. Viscometer Ostwald
Pada alat viscometer ostwald ini, variabel yang akan diukur adalah lamanya waktu yang diperlukan untuk mengalirkan sejumlah cairan melalui sebuah pipa kapiler yang dipengaruhi oleh gaya berat dari fluida cairan tersebut.

Dimana, Anda bisa memasukan cairan dengan jumlah tertentu lalu cairan dihisap menggunakan labu pengukur yang berasal dari viskometer hingga permukaan fluida cairan tersebut lebih tinggi dari batas x. Setelah itu, cairan akan dibiarkan untuk turun. Saat permukaan cairan tersebut turun hingga melewati batas x tadi, Anda mulai menyalakan stopwatch untuk menghitung waktu yang dibutuhkan dari saat cairan melewati batas x hingga melewati batas y. Setelah cairan melewati batas y, langsung matikan stopwatch tadi, sehingga Anda bisa menentukan waktunya.

2. Viscometer Cup dan Bob
Untuk menghitung besarnya viskositas dengan viscometer cup dan bob ini, dengan cara sampel digeser pada ruangan yang terletak di antara dinding bagian dalam cup dan dinding bagian luar bob, dimana bob akan masuk tepat di bagian tengah. Adapun kekurangan menggunakan viscometer cup dan bob ini yaitu rentan terjadi sumbatan aliran akibat gesekan tinggi yang terjadi pada sekeliling tube yang akhirnya menyebabkan bertemunya konsentrat.

3. Viscometer hoppler
Untuk mengukur viskositas dengan viscometer hoppler ini adalah dengan cara mengukur waktu yang diperlukan sebuah logam berbentuk bola ketika melalui sebuah cairan dengan tinggi tertentu. Dimana setiap benda akan jatuh ketika melewati sebuah medium yang memiliki viskositas akibat gaya gravitasi hingga mencapai laju maksimum.

4. Viscometer cone dan plate
Adapun prinsip kerja dari viscometer cone dan plate ini yaitu sampel akan diletakkan di bagian tengah papan, lalu dinaikkan sampai posisi di bagian bawah kerucut. Kerucut ini akan digerakkan menggunakan motor dengan kecepatan yang bervariasi, kemudian sampel digeser pada ruang sempit diantara sebuah papan statis lalu kerucut akan berputar.

Dari pengertian viskositas, konsep viskositas hingga pengukuran viskositas, Anda sudah paham kan mengenai viskositas ini?